oleh: Dr. M. Amin Abdullah

dikutip dari artikel yang dimuat dalam rubrik Analisis buletin Media Inovasi
(terbitan kerjasama Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY) dan Departemen IPTek ICMI Pusat) edisi no. 11 th. VI Desember 1994 / 1415.

Sebagai sebuah gerakan Islam kontemporer, organisasi Muhammadiyah agaknya merupakan paduan antara normativitas Islam dengan historisitas kekhalifahan manusia. Itulah yang menjadikan Muhammadiyah mampu menjawab tantangan jaman. Namun, jika para aktivis Muhammadiyah kemudian terjebak dalam rutinitas keorganisasian dan amal-usaha, Muhammadiyah bisa kehilangan ratio legis yang berupa dialektika normativitas dan historisitas.

Baca tulisan dalam format pdf berikut: Pendekatan “Teologis” dalam Memahami Muhammadiyah.

Comments

3 Responses to “Pendekatan “Teologis” dalam Memahami Muhammadiyah”

  1. Kang Nur on April 1st, 2008 3:18 am

    Menurut pendapat saya, tulisan pak Amin Abdullah ini adalah salah satu tinjauan yang cukup bagus, inspiratif; bagi ‘revitalisasi’ nilai-nilai yg menjadi ‘daya-hidup’ bagi Muhammadiyah. … Nuwun sewu, saya beberapa kali mendapati anak muda yg kelihatannya begitu bersemangat dalam ‘ber-Muhammadyah’; namun setelah saya cukup banyak ber-bincang2 dgn-nya, saya dapat menilai bahwa pemahamannya ttg Muhammadiyah juga tidak terlalu bagus, luas dan mendalam. Ternyata cukup banyak juga anak muda yg ikut Muhammadiyah secara ‘tradisional’ (ikut orangtua, lingkungan, dsb) belaka. Itu memang ‘natural’, namun kemungkinan akan kurang kuat bertahan di jaman sekarang di mana banyak jamaah dgn bermacam pemikiran dan pola yg ditawarkannya. Pengembangan intelektualitas generasi muda Muhammadiyah harus sampai ke tingkat2 cabang (=kecamatan), bahkan ranting.

  2. wahyuddin Ahmadi on April 21st, 2008 12:03 am

    Kader muda Muhammadiyah jarang sekali mampu memahahi sesungguhnya Muhammadiyah, sebenarnya apa yang di tulis pak Abdullah Amin, merupakan tafsir kritis atas pemikiran KH.A. Dahlan, kader Muhammadiyah harus mengambil peran dalam kehidupan masyarakat baik berbangsa dan beragama, melalui jalur-jarur strategis demi membesarkan Muhammadiyah. artinya profesi apapun yang dilakukan kader semata-mata hasilnya akan disumbangkan ke Muhammadiyah, bukan sebaliknya? ” Mencari hidup di Muhammadiyah” sangat rasional jika dikatakan kader Muhammadiyah belum semua mampu memahami sejarah dan menelaah secara kritis dan ilmiah, sehingga ber-Muhammadiyah bukan membangun keihlasan berjuang, akan tetapi ber-Muhammadiyah yang “tendensius”, artinya pamrih semata. belum lagi pemahaman khitah perjuangan Muhammadiyah yang masih bias dalam memahaminya, sehingga politik tak jarang harus tumbuh dan berkembang melalui Muhammadiyah, ironisnya kader muda Muhammadiyah tidak mampu memahaminya. mudah-mudahan pencerahan dan pemikiran ilmiah benar-benar mampu menjadi pembebas Muhammadiyah dari penindasan kultural yang berkembang di dalam sturuktur Muhammadiyah. selamat berjuang dan cerdas dalam bertindak, Muhammadiyah semata-mata demi Islam rahmatan lil ‘alamiin.

  3. Edi gunanto on June 19th, 2008 7:51 pm

    Sy pernah berkomentar di di sini, silahkan kirimkan balik komentar anda ke email sy.edy_gunanto@yahoo.co.id

Leave a Reply