Mar
10
Sesungguhnya pengetahuan saya tentang blog (dan lebih luasnya lagi ttg teknologi internet) adalah sangat terbatas. Maka bilamana saya menyatakan tentang sesuatu/beberapa menyangkut hal2 tersebut, maka memang jangan dianggap sebagai suatu kebenaran yang telah saya dapatkan, sehingga pembaca sepantasnya langsung mempercayainya. Seringkali tulisan saya itu justru lebih bersifat ingin mendapatkan konfirmasi apakah yang saya dapatkan itu adalah benar? Jadi, sejujurnya saya ingin mendapat konfirmasi apakah pendapat atau yang saya ketahui itu benar atau tidak. Maka saya lebih menginginkan agar tulisan2 saya lebih banyak dikomentari, sebagai uji kebenaran itu. …Begitu pula selanjutnya dalam tulisan saya berikut ini, Anda pembaca sekalian dapat mengecek-memeriksa apakah pandangan-pengamatan saya berikut ini benar ataukah tidak.
Berkait bila kita membicarakan tentang blog (weblog), pertanyaan mendasar pertama yang pantas muncul adalah: Apa sih beda antara weblog dengan website? Saya pernah menemukan bahwa seorang blogger (dlm arti pemilik dan pembuat blog) sendiri menanyakan itu di blog milik blogger yang lebih senior. Namun pertanyaan itu tidak dijawab karena terlalu banyaknya pertanyaan yang masuk, mungkin si senior tidak sempat memperhatikannya atau menganggapnya tidak penting. … Kalau pendapat saya; sesungguhnya hampir tidak ada bedanya; karena sama2 merupakan halaman situs yang dapat diakses lewat internet. Namun, beberapa perbedaannya adalah:
1. Desain blog/weblog adalah tinggal memakai pilihan-pilihan template theme yang sudah banyak disediakan, sedangkan sebuah website adalah didesain mulai dari awal dari nol oleh web-master/web-developer-nya sendiri.
2. Seorang web-master untuk website harus mencari/memiliki server (penyimpan data internet) sendiri, sedangkan server untuk blog sudah disediakan oleh penyedia layanan blog. Pada merk Blogger (yg ditandai dgn ekstensi blogsome/blogspot) yang diakuisisi oleh Google, maka pihak Google-lah yang menyediakan server itu. Begitu pula kiranya dengan Wordpress ini, yang kalau tak salah ikut bernaung bersama dengan Automattic.com.
3. Nama/alamat domain untuk blog akan lebih terbatas atau dibatasi untuk yang gratis, tentu dengan nama ekstensi tempat blog kita bernaung. Namun, bila kita mau membayar lebih, kita juga bisa memperoleh nama domain pilihan kita sendiri. Nama domain mendaftar sendiri ini saya tidak tahu proses mendaftarkannya. Saya bisa tanya kapan2 ke mas admin.
4. Kapasitas penyimpanan data. Karena server blog adalah disediakan oleh penyedia layanan, maka kapasitasnya tergantung oleh pilihan2 yang diberikan oleh penyedia layanan. Untuk blog Wordpress gratis kapasitasnya 3 GB.
Apakah pernyataan saya tersebut di atas benar? Anda yang lebih tahu mohon konfirmasinya. Maka, lihatlah betapa bila saya terlalu banyak menulis tentang hal2 yang tidak saya ketahui, maka akan semakin tampaklah kebodohan saya. He.. he…
Tentang hal2 seperti di atas, saya dapat belajar dari teman2 semua. Selanjutnya yang akan saya sampaikan adalah berkaitan dengan model2/pola2 komunikasi yang dipakai-ditampilkan orang, terutama dari Indonesia, di dalam blog yang mereka ampu.
Satu hal pertama yang saya amati sekaligus saya herankan adalah; mengapa kebanyakan blog-blog bikinan orang Indonesia itu adalah berupa Diary = catatan harian pribadi? Kalau saya sendiri, bagi saya sendiri; saya akan merasa malu banget kalau catatan harian pribadi saya kok dilemparkan-disebarkan ke wilayah area publik. Sebuah diary di-go-public-kan? Mending kalau itu catatan harian seperti milik Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, Anne Frank, dsb; yang selain banyak memuat pemikiran2 berharga yang bermanfaat dibaca orang, juga akan menjadi catatan sejarah karena berkaitan langsung dengan peristiwa2 besar, atau memotret kecenderungan2 situasi sosial pada masanya. Namun bila memuat tentang hubungan dengan pacar dsb.? Whueleh..wheleh. Narsis amat. Atau mungkin ekshibisionis ya? Hua..ha..ha… Saya mendapati blog yang memuat content diary seperti ini lebih banyak dimiliki oleh perempuan, dan terutama yang masih berusia muda. Saya tidak akan memberikan contohnya, nanti dikira saya melecehkan. Carilah sendiri bila Anda penasaran dan ingin tahu. Ha.. ha… Kalo beruntung, bisa jadi Anda dapat dipercaya menjadi teman curhat mereka2 itu. He.. he…
Satu model budaya komunikasi yang baru (dengan media yang baru), saya kira memang secara bawah sadar seringkali masih menggunakan anggapan dari model-media komunikasi sebelumnya yang telah pernah ada. Beberapa pemilik blog menggunakan blog-nya dengan cara (yang menurut saya) OVER-komunikatif. Blog menjadi perluasan dari ruang chatting pribadi. Beberapa perempuan, lagi2 menjadi pelopor dalam hal ini. Satu contohnya: lihat blog pribadi milik Siwi Imut
ini. Frekuensi Siwi dalam berkomunikasi dengan teman2 link-blogroll-nya sangat tinggi, bagaikan main interkom-an saja. Ini memang ditunjang karena sbg mahasiswi ITS ia dapat ber-free internet dengan wi-fi-nya. Komunitas blogger yang ditunjang oleh fasilitas free-by-wifi menunjukkan kecenderungan
penggunaan blog yang menjadi hampir mirip ruang chatting atau mirip jaringan kawat interkom-an. Namun bukan berarti saya kurang menghargai tulisan2 artikel mereka. Beberapa tulisan Siwi Imut yang saya baca, saya nilai sangat bermutu. Mutu itu ditunjang oleh gaya bertuturnya yang komunikatif, renyah, mampu menyentuh simpati pembaca.
… (bersambung)
Comments
Leave a Reply