oleh: Dr. M. Amin Abdullah

dikutip dari artikel yang dimuat dalam rubrik Analisis buletin Media Inovasi
(terbitan kerjasama Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M UMY) dan Departemen IPTek ICMI Pusat) edisi no. 11 th. VI Desember 1994 / 1415.

Sebagai sebuah gerakan Islam kontemporer, organisasi Muhammadiyah agaknya merupakan paduan antara normativitas Islam dengan historisitas kekhalifahan manusia. Itulah yang menjadikan Muhammadiyah mampu menjawab tantangan jaman. Namun, jika para aktivis Muhammadiyah kemudian terjebak dalam rutinitas keorganisasian dan amal-usaha, Muhammadiyah bisa kehilangan ratio legis yang berupa dialektika normativitas dan historisitas.

Baca tulisan dalam format pdf berikut: Pendekatan “Teologis” dalam Memahami Muhammadiyah.

Saat kita berniat untuk turut meramaikan blog ini, pasti pertanyaan yang muncul pertama kali di benak kita adalah: Mau nulis tentang apa aku di sini? Apa yang akan kukirimkan ke blog ini?
Berikut ini satu uraian yang saya dapatkan dari blog seorang blogger senior yang tulisan-tulisannya selalu menarik untuk dibaca. Saya menterjemahkannya untuk lebih cepat dipahami (sekaligus saya belajar menterjemahkan). Beberapa darinya telah saya gubah saya sesuaikan dengan konteks kita:

Read more

Begitu melihat ada sebuah blog (weblog) dimiliki oleh organisasi atau klub kelompok kegiatan dalam masyarakat, kini di benak kita justru masih muncul sebuah prasangka buruk: Jangan2 tujuan mereka memiliki blog ini hanyalah untuk gaya2an saja. Jangan2 mereka membuat blog ini hanyalah untuk trendy2an belaka. Biar dibilang keren. Biar dibilang gaya. Sekedar ikut2an hal yang kini sedang trendy. Biar dibilang up-to-date, biar dianggap gak gap-tek. Begitu, ‘kan? Read more

Kyai Haji Ahmad Dahlan (Yogyakarta, 1 Agustus 1868 - Yogyakarta, 23 Februari 1923) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Read more

Sesungguhnya pengetahuan saya tentang blog (dan lebih luasnya lagi ttg teknologi internet) adalah sangat terbatas. Maka bilamana saya menyatakan tentang sesuatu/beberapa menyangkut hal2 tersebut, maka memang jangan dianggap sebagai suatu kebenaran yang telah saya dapatkan, sehingga pembaca sepantasnya langsung mempercayainya. Seringkali tulisan saya itu justru lebih bersifat ingin mendapatkan konfirmasi apakah yang saya dapatkan itu adalah benar? Jadi, sejujurnya saya ingin mendapat konfirmasi apakah pendapat atau yang saya ketahui itu benar atau tidak. Maka saya lebih menginginkan agar tulisan2 saya lebih banyak dikomentari, sebagai uji kebenaran itu. …Begitu pula selanjutnya dalam tulisan saya berikut ini, Anda pembaca sekalian dapat mengecek-memeriksa apakah pandangan-pengamatan saya berikut ini benar ataukah tidak.

Read more

Next Page →